Jumat, 07 September 2012

Alasan Kita Tidak Boleh Melupakan Munir

Hari ini, delapan tahun silam di Bandar Udara Changi, Singapura, seorang pria yang berniat menuntut ilmu ke Belanda harus berakhir hidupnya. Dia adalah Munir Said Thalib. Pegiat hak asasi manusia, pengacara, dan pembela buruh itu meninggal di dalam pesawat Garuda Indonesia karena diracun.


Sejumlah nama sudah terseret dalam kasus ini. Ada Muchdi Purwoprandjono yang disebut otak dibalik pembunuhan pada 7 September 2004 itu. Tapi bekas Deputi di Badan Intelijen Negara itu kini bisa melenggang bebas. Ada pula Pollycarpus Budihari Prijanto yang mendekam 20 tahun di penjara.


Meski dua sudah terseret hukum, tapi keadilan dari kematian Munir dirasa belum bisa dipenuhi, sebab masih ada yang bebas. Jadi peringatan sewindu kematian Munir, adalah bagian dari melawan lupa kejadian yang mencoreng penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia.


"Munir itu simbol banyak korban pelanggaran Hak Asasi Manusia," ujar pembuat film Dokumenter Munir, Kiri Hijau Kanan Merah, Dhandy Laksono, ketika dihubungi, Selasa, 4 September 2012.


Munir adalah lambang perjuangan kaum yang tertindas yang dulu dibantunya. Mulai dari korban di Aceh, Papua, kasus buruh Marsinah hingga Timor Leste. "Dia itu perempatan jalan," kata Dhandy menambahkan.


Kalau perempatan jalannya diblok, ia melanjutkan, maka keseriusan pemerintah untuk penuntasan kasus tersebut juga jadi tanda tanya. "Dia memang hanya satu orang, tapi dia adalah pusat dari sejumlah kasus," ujar Dhandy.


Apalagi Munir sebelum meninggal dikenal sebagai sosok yang dekat dengan pejabat kepolisian atau pejabat militer. »Tokoh yang dekat saja bisa dibunuh, apalagi orang-orang kecil,” kata Dhandy. Dan, ia mengingatkan, Munir dibunuh di era reformasi, waktu Indonesia mulai membenahi wajah penegakan Ham.

Koordinator Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM), Choirul Anam, menguraikan penuntasan kasus suami Suciwati itu, bisa memperbaiki citra Indonesia di dunia. "Ini menunjukkan Indonesia tidak kalah dengan kesewenang-wenangan dan kekerasan," kata dia yang dihubungi, 6 September 2012.


Kasus kematian Munir, ia menjelaskan, juga menunjukkan seberapa jauh reformasi berjalan di lembaga koersif, khususnya Badan Intelijen Negara. "Lembaga tersebut selama ini dikenal untouchable," ujar Choirul. Ada informasi yang tak transparan ada pula proteksi kekuasaan. Munir, ia memberi penekanan, adalah manusia biasa. "Tapi ia istimewa karena keberaniannya." Sumber

Tidak ada komentar: